Kenaikan BBM yang saat ini masing ditentang oleh para mahasiswa se-Indonesia dan beberapa politisi nampaknya tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi.
Dengan adanya kenaikan BBM berdampak pada kenaikan hampir seluruh kebutuhan pokok bahkan selurug kebutuhan hidup yang ada.
Berapa lagi beban masyarakat yang harus ditanggung dari dampak kenaikan BBM tersebut.
Sebelum adanya kenaikan BBM kebutuhan pokok telah mengalami kenaikan pada awal tahun ini, masyarakat belum sepenuhnya mampu untuk mensiasati pengeluarannya telah ditambah beban lagi dengan kenaikan BBM yang berdampak pada kenaikan kebutuhan yang ada.
Bila kebijakan pemerintah terus-menerus memberatkan masyarakan bawah pada khususnya, bagaimana nasib bangsa ini dikemudian hari, apakah Bangsa ini dijadikan kembali sebagai negara jajahan.
Tentu jawaban para pejabat Negara yang ikut membuat kebijakan kenaikan BBM khususnya adalah TIDAK. Lalu atas dasar apa Bangsa ini akan Bangkit bila para penerus Bangsa ini banyak yang BODOH karena ketidakmampuan keluarganya menyekolahkan mereka karena himpitan ekonomi akibat dari kebijakan Pemerintah yang memberatkan mereka.
Bagaimana untuk sekolah yang biayanya sangat mahal, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masih pusing untuk memenuhinya.
Bila kebijakan tersebut diambil dengan dalih kenaikan harga BBM Dunia, seharusnya tidak menjadikan masalah bagi negara ini, karena negara kita penghasil minyak jadi seharusnya tidak berpengaruh dengan dasar bahwa dengan adanya kenaikan harga BBM beban subsidi pemerintah bertambah namun dilain sisi pendapatan dari export minyak juga bertambah, dan yang lebih meyakinkan adalah untuk mengurangi beban masyarakan disalurkanlah BLT, Subsidi Untuk Angkot dan Beasiswa bagi Mahasiswa (Dalam rencana) apakah hal tersebut tepat sasaran dan apakah hal tersebut tidak mengeluarkan UANG.
Pasti banyak juga kan yang harus dikeluarkan pemerintah untuk rencana tersebut.
Jadi apagunanya menaikkan BBM dengan dalih untuk mengamankan APBN apabila pengeluaran pemerintah bertambah dan kemiskinan yang berdampak kebodohan, peningkatan kriminalitas dan lain sebagainya.
Seharusnya Pemerintah lebih bijak dalam membuat kebijakan, tidak perlu untuk menaikkan BBM, asih banyak cara untuk menutupi selisih antara kenaikan pendapatan dengan kenaikan subsidi, seperti misalnya Pengurangan anggaran yang hanya menghamburkan uang (kunjungan para pejabat yang tanpa tahu apa tujuan, perbaikan yang diambil setelah mengetahui keadaan suatu wilayah), kegiatan ceremonial lainnya yang masih dijalankan dan parahnya lagi kedua pemborosan tersebut telah terjadi sampai dengan pejabat-pejabat didaerah (PARAHHHHHHHHHHH......).
Dengan adanya kenaikan BBM berdampak pada kenaikan hampir seluruh kebutuhan pokok bahkan selurug kebutuhan hidup yang ada.
Berapa lagi beban masyarakat yang harus ditanggung dari dampak kenaikan BBM tersebut.
Sebelum adanya kenaikan BBM kebutuhan pokok telah mengalami kenaikan pada awal tahun ini, masyarakat belum sepenuhnya mampu untuk mensiasati pengeluarannya telah ditambah beban lagi dengan kenaikan BBM yang berdampak pada kenaikan kebutuhan yang ada.
Bila kebijakan pemerintah terus-menerus memberatkan masyarakan bawah pada khususnya, bagaimana nasib bangsa ini dikemudian hari, apakah Bangsa ini dijadikan kembali sebagai negara jajahan.
Tentu jawaban para pejabat Negara yang ikut membuat kebijakan kenaikan BBM khususnya adalah TIDAK. Lalu atas dasar apa Bangsa ini akan Bangkit bila para penerus Bangsa ini banyak yang BODOH karena ketidakmampuan keluarganya menyekolahkan mereka karena himpitan ekonomi akibat dari kebijakan Pemerintah yang memberatkan mereka.
Bagaimana untuk sekolah yang biayanya sangat mahal, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masih pusing untuk memenuhinya.
Bila kebijakan tersebut diambil dengan dalih kenaikan harga BBM Dunia, seharusnya tidak menjadikan masalah bagi negara ini, karena negara kita penghasil minyak jadi seharusnya tidak berpengaruh dengan dasar bahwa dengan adanya kenaikan harga BBM beban subsidi pemerintah bertambah namun dilain sisi pendapatan dari export minyak juga bertambah, dan yang lebih meyakinkan adalah untuk mengurangi beban masyarakan disalurkanlah BLT, Subsidi Untuk Angkot dan Beasiswa bagi Mahasiswa (Dalam rencana) apakah hal tersebut tepat sasaran dan apakah hal tersebut tidak mengeluarkan UANG.
Pasti banyak juga kan yang harus dikeluarkan pemerintah untuk rencana tersebut.
Jadi apagunanya menaikkan BBM dengan dalih untuk mengamankan APBN apabila pengeluaran pemerintah bertambah dan kemiskinan yang berdampak kebodohan, peningkatan kriminalitas dan lain sebagainya.
Seharusnya Pemerintah lebih bijak dalam membuat kebijakan, tidak perlu untuk menaikkan BBM, asih banyak cara untuk menutupi selisih antara kenaikan pendapatan dengan kenaikan subsidi, seperti misalnya Pengurangan anggaran yang hanya menghamburkan uang (kunjungan para pejabat yang tanpa tahu apa tujuan, perbaikan yang diambil setelah mengetahui keadaan suatu wilayah), kegiatan ceremonial lainnya yang masih dijalankan dan parahnya lagi kedua pemborosan tersebut telah terjadi sampai dengan pejabat-pejabat didaerah (PARAHHHHHHHHHHH......).


